Hanya karena membicarakan apa yang ditulis orang lain, maka terjadi salah tafsir. Kita tidak memiliki gagasan murni yang lugas dan cerdas. Mengulas sebuah pemikiran yang sudah tersurat sebelumnya, kita tidak akan lepas dari sumber yang kita tulis. Itulah kerugian kalau kita berani menuliskan apa yang muncul dalam benak kita sendiri saja.
Menuliskan gagasan sendiri, murni 100 persen dari kepala kita, juga tidak semudah menumpahkan air dari gelas… pyok! Gaya tulisan kita dipengaruhi oleh mood atau kondisi kejiwaan kita saat itu. Bisa ceria. Bisa bersahaja. Bisa luar biasa rumitnya. Terserah kapan kita mau menulis.
Kalau tulisan kita sedikit, perasaan dan pengetahuan yang kita ekspresikan harus berbanding 50:50. Mengapa demikian? Tulisan kita tidak berasa kalau terlalu fokus pada pengetahuan dan detil informasi. Kita perlu memunculkan ungkapan-ungkapan perasaan yang menarik simpati pembaca.
Lain lagi kalau yang kita utarakan hanya perasaan. Tulisan kita memberi nuansa bahwa kita lagi curhat atau ngegosip. Gaya seperti ini memang paling top saat ini. Pembaca merasa sedang diajak ngobrol oleh penulis yang secara maya berhadap-hadapan. Jalinan antara pembaca dan penulis membuka sebuah ruang hati yang menggembirakan,
Sayang kita yang membaca kok tidak selalu memberikan ruang hati kepada penulis. Kita bilang: Cerita basi! Sangat membosankan! 1001 ungkapan. Atau, No comment!
Berbagi